close

√ Cerpen Yang Bertema Sosial Dan Mengandung Tema Religi

Cerpen yg bernuansa sosial & mengandung tema religi

.“La, pake jilbabmu kalau ingin keluar, sayang.” Ucapan Ibu yg samar terdengar dr dlm rumah. “Nanti aja, Bu. Kapan-kapan.” Melanjutkan langkahku menuju mobil xenia berwarna silver. Menyalakan mesin, & melaju dgn tepat.

maaf bila tanggapan salah

cerpen tema sosial sosial

Sore itu Lila sedang mengolah masakan untuk keluarga. Sebagai putri tunggal dr tiga bersaudara Lila menggantikan peran ibunya. Setiap pagi & sore Lila mengambil alih ibunya untuk memasak. Lila memang dikenal selaku sosok putri yg baik. Tidak cuma dimata keluarganya, tetapi dimata penduduk . Lila sangat peduli pada adik & kakaknya, perhatian pada ibunya & selalu mendo’akan bapaknya yg sebulan kemudian sudah pulang ke rahmatullah.

Selain menggantikan peran ibunya sebagai ibu rumah tangga, Lila pula mau mengurusi keperluan adiknya yg masih berusia 8 tahun. Lila menyucikan baju adiknya, menemaninya belajar & tak jarang uang yg ia tabung rela diberikan untuk adiknya. Kakak Lila yg melakukan pekerjaan selaku karyawan diperusahaan swasta dgn honor bulanan yg masih kecil memang tak mampu membantu ekonomi keluarga. Lila rela meninggalkan abad-periode remajanya demi kemakmuran keluarganya, khususnya adiknya yg baru berusia 8 tahun.

Selesai mengolah makanan, Lila diundang oleh ibunya. Lil..! Ya bu, ada apa? Sudah tamat masaknya? Sudah bu, ibu perlu apa? Nggak ada Lil, coba ananda kesini ibu mau ngomong sama kau. Ada apa bu? Lil, ananda memang sungguh diperlukan adik ananda karena ibu memang sudah tua. Kamu banyak menghabiskan waktumu untuk mengurusi adik kamu. Lil, ibu tau ananda kini menjadi acuan keluarga utamanya adik kamu. Tapi, ibu tak mau kau mengorbankan abad depan ananda demi adik kau. Saya nggak mengorbankan era depan gue demi adik bu. Saya cuma menanti waktu yg tepat. Bagaimana mungkin gue mau melanjutkan pendidikan kini & meninggalkan adik sementara ia masih sangat membutuhkan saya. Tenang bu, ibu tak usah mencemaskan aku. Baiklah, ibu cuma mengingatkan alasannya ibu tak mau kau kehilangan cita-cita kau.

  Binatang Bunglon, Di Balik Karakteristik Orang Batak Silaban Abad 21

Read more: http://www.teksdrama.com/2012/09/acuan-cerpen-sosial-pendidikan.html#ixzz49OGnbPiG

Contoh cerpen yg bernuansa sosial

bendera, pendekar, cinta, waktu

Cerpen bertema sosial budaya

misalnya cerpen yg berjudul harga sebuah kejujuran

Buatlah cerpen bernuansa sosial

Bapak Tua Pedagang Buah

Setiap pagi hari, Dimana setiap orang sibuk dgn segala aktivitasnya masing – masing, Ada yg mau berangkat menuju daerah pekerjaannya ada yg mau berangkat ke sekolah atau kekampus untuk kuliah & ada pula yg sudah siap bekerja di kantor masing – masing.

Ditengah – tengah aktivitas itu semua ada seorang Bapak tua penjualbuah berjulukan Pak Sarno yg setiap pagi hari senantiasa tampakdengan sarat semangat & tak kenal lelah memanggul bakul buahnya untuk di tawarkan ke setiap orang yg melewatinya.

Kalau dilihat dr fisiknya pak Sarno itu sudah tak sempurna kalau sedang berjalan kaki, Tetapi sebab kewajiban untuk mencari nafkah ia lakukan itu semua dgn penuh semangat & pantang menyerah.

Suatu pagi seorang anak muda berjulukan Andi melihat pak Sarno sedang duduk untuk melepas lelahnya di gang pepaya, Depok. Sambil duduk pak Sarno minum & mengeluarkan plastik kresek yg telah berisi makanan untuk sarapan. Dengan badan masih berkeringat pak Sarno mulai makan di daerah itu & buah dagangannya tetap berada di sampingnya, Saat Andi lewat pak Sarno menegur dgn sungguh ramah & berkata “ mari sarapan dek “ Andi pun membalas dgn senyum yg ramah & tutur kata yg sangat sopam “mari pak silahkan “.

Hampir setiap hari pak Sarno selalu istirahat di gang pepaya tersebut untuk melepas letih & sarapan, Karena memang rumah pak Sarno berada di belakang stasiun UI.

  Ilmu Pengetahuan Dan Budaya : Pengaruh Lingkungan Terhadap Kondisi Sosial Budaya

Suatu tatkala pak Sarno tampaksedang  berada di pinggiran jalan Margonda bangkit dgn memegang bambu yg digunakan untuk mengangkat bakul buahnya. Kelihatan pak Sarno ingin menyeberang jalan untuk memasarkan buah – buah dangannya kembali, Andi yg tadinya lazimlewat gang itu melihat pak Sarno bangun sambil melihat orang lewat dgn muka memang ingin meminta tunjangan. Dengan ramah Andi menawarkan “ mau menyeberang pak “ & pak Sarno pun menjawab “ iya dek “  maka dgn sarat ketulusan Andi menolong pak Sarno untuk menyeberang dgn memanggul bakul buah punya pak Sarno ke seberang jalan sebab memang langkah pak Sarno berjalan sudah pincang & tak memakai alas kaki.

Beberapa hari kemudian Andi menerima pak Sarno menanti di pinggir jalan Margonda itu untuk menyeberang & dgn ramah,tulus Andi membantu pak Sarno untuk menyebarang.

Kejadian seperti itu sering di lakukan oleh Andi Kalau melihat pak Sarno, Suatu saat Andi pernah mengajukan pertanyaan ke pak Sarno wacana keluarganya & ternyata pak Sarno di rumah masih memiliki 3 orang anak yg masih beranjak dewasa & butuh banyak biaya untuk bersekolah & pula untuk memadai kebutuhan sehari – hari sedangkan istri pak Sarno cuma melakukan pekerjaan sebagai penyapu jalan.

Dari cerita di atas mampu kita lihat bahwa masih  sungguh banyak masyarakat yg hidup di bawah garis kemiskinan & tak memiliki fisik yg baik untuk mencari nafkah untuk terus hidup.

Mungkin masih banyak pula di luar sana yang  nasibnya tak lebih baik dr pak Sarno.

Marilah kita senantiasa menyucap syukur untuk apa yg kita punya sekarang alasannya adalah banyak orang – orang diluar sana yg memiliki nasib tak seperti kita.

  Apa Perbedaan Sosialisme Dengan Kapitalisme?